“Mitoni”, Selamatan Tujuh Bulanan Saat Wanita Hamil Pertama Kali Dalam Adat Jawa

Kabar Desa Lingkungan

Indonesia adalah sebuah negara dengan berbagai budaya dan agama yang diyakini oleh setiap masyarakatnya. Ada yang memeluk agama Islam, Kristen, Budha, Hindu maupun Konghucu yang terpencar di berbagai belahan daerah atau bahkan beberapa agama hidup berdampingan di satu daerah.

Hal tersebut di antaranya menyebabkan pertukaran budaya dan adat istiadat maupun penyesuaian adat yang biasanya di selipkan dengan hal-hal yang berbau keagamaan, seperti halnya upacara peringatan 7 bulanan saat seorang ibu hamil mencapai usia 7 bulan kehamilannya.

Filosofi Jawa : Mitoni atau acara tujuh bulanan usia kehamilan pertama kali adalah umum dilakukan pada masyarakat Jawa. Acara mitoni atau tingkeban, merupakan prosesi adat Jawa yang ditujukan pada ibu yang kandungannya mencapai usia tujuh bulan kehamilan.

Khasanah Budaya Jawa Saat Wanita Hamil Usia Kandungan 7 Bulan.

Kehamilan di usia ke 7 bulan, bayi dalam kandungan mengalami banyak perubahan perkembangan yang lebih pesat dari pada usia 4 bulan, karena usia kandungan 7 bulan adalah usia persiapan awal menuju ke proses kelahiran, dimana ukuran dan berat bayi bertambah dan perubahan tersebut berdampak terhadap kondisi sang ibu yang biasanya menjadi lebih sering merasakan nyeri di pinggang karena ukuran bayi yang dikandung semakin besar akan semakin memberikan tekanan pada organ dalam seperti sembelit dan jadi lebih sering buang air kecil.

Selain ukuran dan berat bayi dalam kandungan yang semakin membesar dan proporsional, kulit janin juga mulai dilapisi oleh sebuah zat lemak yang akan membuat bayi merasa lebih hangat saat berada di dalam kandungan. Di usia kandungan ke 7 bulan ini jugalah darah mulai mengalir di jaringan kulit bayi sehingga kulit yang tadinya keriput akan berangsur-angsur menjadi semakin halus.

Tak hanya itu, mata dan telinganya juga sudah mulai berfungsi bahkan mulai bisa menerima rangsangan yang kemudian dikirimkan ke otak karena pertumbuhan otak di usia kandungan ke 7 bulan ini juga sangat pesat.

Proses terbentuknya janin.

Dengan banyaknya perkembangan dan pertumbuhan penting yang dialami bayi pada usia 7 bulan dalam kandungan, maka dilaksakanlah peringtan 7 bulanan supaya bersama-sama mendoakan kesehatan, keselamatan dan kelancaran kelahiran sang bayi serta sang ibu yang mengandungnya.

Selain itu, usia kandungan yang telah menginjak usia ke 7 bulan juga memiliki pantangan tesendiri bagi sang ibu hamil atau ayah biologisnya baik secara agama maupun secara adat istiadat yang berlaku di masyarakat.

Mitoni, tingkeban, atau Tujuh bulanan merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh. Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, di mana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada ibu yang sedang mengandung. Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti.

Mitoni dilihat dari kacamata Agama Islam.

Acara tujuh bulanan dalam islam ini menjadi perdebatan bagi beberapa ulama, ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan karena adanya indikasi bid’ah dari ritual-ritual yang dilakukan selama prosesi 7 bulanan.

Perkara mengenai ibadah dan adat istiadat ini telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah  bahwa:

“Pada asalnya ibadah itu tidak disyari’atkan untuk mengerjakannya kecuali apa yang telah disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan adat itu pada asalnya tidak dilarang untuk mengerjakannya kecuali apa yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Artinya yang wajib dilakukan sebagai ibadah adalah hal-hal yang memang jelas telah disyariatkan dalam agama Islam. Sedangkan untuk pengerjaan adat istiadat yang telah terjaga dalam suatu masyarakat hukumnya boleh-boleh saja selama itu tidak melanggar syariat yang ditetapkan oleh Allah subhana hua ta’ala.

Kemudian Imam Asy- Syafi’i menjelaskan bahwa:

“hal-hal yang baru yang menyalahi al-Qur’an, as-Sunnah, ijma’ (kesepakatan ulma), atau atsar maka itu bid’ah yang menyesatkan. Sedangkan suatu hal yang baru yang tidak menyalahi salah satu dari keempatnya maka itu (bid’ah) yang terpuji”.

Dalam Islam, acara syukuran atau peringatan memang tidaklah wajib. Acara yang dilakukan dengan mewah dan menghambur-hamburkan uang juga tidak diperkenankan dalam Islam apalagi kalau niatnya sebagai ajang unjuk diri bahwa ia mampu dan kaya untuk membagikan banyak makanan kepada masyarakat.

Namun menurut Madzhab Syafi’i, acara syukuran dengan membagikan perjamuan atau hidangan makanan dan minuman kepada para tamu undangan adalah sunah selama hal tersebut diniatkan untuk menunjukkan rasa syukur akan nikmat Allah subhana hua ta’ala dan sebagai bentuk berbagi kepada saudara atau para tamu undangan. Dimana dalam proses acara tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk saling memepererat tali silaturahmi antara tamu undangan.

Jadi tergantung pada niat dan tujuan apa yang kita miliki untuk melaksanakan acara 7 bulanan tersebut. Apakah sebagai suatu keharusan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada calon bayi dan ibu yang mengandungnya atau sebagai salah satu upaya untuk menapatkan banyak doa dan sebagai salah satu bentuk rasa syukur yang kemudian dibagi kepada masyarakat sekitar dengan cara mengadakan syukuran dan menjamu mereka dengan makanan dan minuman.

 

Komentar Facebook

Tinggalkan Komentar dan Balasan