Hari Ibu, Tonggak Sejarah Pemberdayaan Masyarakat Melalui Kapasitas Perempuan Dalam Wadah PKK

Kabar Desa Lingkungan

PUTATGEDE.DESA.ID – Hari ini, 22 Desember merupakan Hari bagi Seorang Ibu. Hari dimana 59 Tahun yang lalui melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959 menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu adalah merupakan hari pertama kalinya diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang dilangsungkan di Jogjakarta tahun 1928. Peristiwa ini dikenang sebagai awal mula perjuangan kaum perempuan di Indonesia.

5 (Lima) Alasan saat itu disebut sebagai Hari Ibu, antara lain :

  1. Pertama dilaksanakannya Konggres Perempuan Indonesia.
  2. Banyaknya warga Indonesia yang protes terhadap Hari Kartini.
  3. Pidato Djami (Organisasi Darmo Laksmi) berjudul “iboe”, yaitu : “Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya.”
  4. Para pahlawan wanita Indonesia berkumpul menjadi satu membela hak perempuan.
  5. Perjuangan para pahlawan wanita, “seorang ibu yang inginkan keturunannya sekolah”.
Mayoritas Ibu-ibu muda.

Terlepas dari itu semua, Hari Ibu adalah momen di mana kita mengingat semua jasa-jasa yang pernah dilakukan oleh Ibu kita. Mungkin kita belum bisa membalas semua itu, atau bahkan kita belum menjadi anak yang baik. Kita sering melawan jika dinasihati, tidak melakukan apa yang beliau pinta, lebih memilih berkumpul dengan teman dibanding mendengarkan ceritanya, atau mungkin diantara kalian belum sempat mengucapkan “aku sayang mama” karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Terkadang kita juga sebagai anak terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan sayang itu. Lakukanlah sebelum kesempatan itu tidak ada lagi dan sebelum kita tidak bisa melihatnya lagi.

Untuk memberikan ruang geraknya, hingga saat ini, instansi pemerintah juga pasti ada yang namanya PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) sebagai wadah bagi ibu-ibu dalam pemberdayaan masyarakat. Sebutan PKK tampaknya lebih membudidaya dari pada kepanjangannya yakni Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Tidak semua masyarakat khususnya ibu-ibu memahami pengertian PKK, tetapi bagi Kader PKK tentu menyadari eksistensi gerakan ini yang sifatnya Nasional, tetapi ibu-ibu yang masih awam, PKK hanyalah perkumpulan ibu-ibu yang mengadakan Arisan.

Di Desa Putatgede pertemuan ibu – ibu PKK dilaksanakan tiap awal bulan, bertempat di ruang Aula Balai Desa Desa Putatgede. Dalam pertemuan tersebut selalu diawali dengan lantunan Lagu Indonesia Raya, Mars PKK, dan Mars Hidup Sehat, menurut keterangan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Putatgede Ibu Uswatun Khasanah Supriyadi, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars PKK disetiap pertemuan PKK akan memperkuat Jiwa Nasionalisme sebagai warga Negara Indonesia.

Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, saat mengawali acara kegiatan

Melalui 10 Program Pokoknya, Ibu-ibu PKK tak kalah dengan ruang gerak kaum pria. Program-program tersebut antara lain :

  1. Penghayatan dan Pengamalan PANCASILA
  2. Gotong Royong
  3. Pangan
  4. Sandang
  5. Perumahan dan Tata Laksana Rumah Tangga
  6. Pendidikan dan Keterampilan
  7. Kesehatan
  8. Pengembangan Kehidupan Berkoperasi
  9. Kelestarian Lingkungan Hidup
  10. Perencanaan sehat

Lika-liku akan hidupnya pemberdayaan kaum wanita, memang sangat dirasakan. Tantangan bagi kader gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di era modernisasi ini semakin berat. Bukan hanya menyesuaikan rancangan kegiatan masyarakat dalam mensukseskan program pemerintah, kader PKK juga harus mampu menangani pergantian kader yang DO (drop out-berhenti). Hingga mengikutsertakan ibu muda dalam kegiatan-kegiatan PKK.

Ketua PKK sedang memperagakan saat pelatihan.

Selain itu, prinsip gerakan PKK yang berdasarkan pada kesukarelaan menjadi faktor utama tingginya tingkat DO pada kader PKK, karena tidak ada upah sebagaimana pegawai pada umumnya. DO dalam konteks ini sebagai proses putus sambung kaderisasi. Misalnya si ibu sudah sibuk dengan anak-anaknya kemudian memutuskan keluar dari PKK. Atau mereka yang terjepit persoalan ekonomi dan menjadi TKW, sehingga mau tidak mau harus keluar dari PKK. Ada pula kader yang sukses di tingkat daerah lokal, ganti RW, ganti Kades atau bedol desa, dan lain-lain.

Namun Pemerintah Desa Putatgede, selalu berupaya agar mereka (ibu-ibu) setiap bulannya untuk bisa selalu aktif, memberdayakan dirinya melalui PKK. Bebrabagi upaya telah dilakukan, mulai dari pemberian dana untuk operasional kegiatannya sampai dengan memberikan kegiatan-kegiatan berupa pelatihan-pelatihan. (Red).

 

Komentar Facebook

Tinggalkan Komentar dan Balasan