“Gareng Ngamuk” Di Haflah Akhirussanah TPQ Nurul Huda Desa Putatgede

Kabar Desa Seni Budaya Warga Desa

PUTATGEDE (04/05/2018). Istilah “Haflah akhirussanah” tentunya tak asing lagi bagi umat Islam Indonesia, lebih-lebih kalangan pesantren. Istilah yang diadopsi dari bahasa Arab ini, nampaknya tidak hanya populer dimasyarakat, namun sudah sampai mengakar rumput seperti halnya bahasa sendiri. Ini didasarkan pada kebiasaan yang dilakukan oleh institusi pendidikan Islam yang tidak hanya sekedar perkumpulan, melakukan pertemuan atau upacara. Namun juga melaksanakan kegiatan yang bersifat hiburan. Keberadaan kegiatan yang bersifat hiburan ini dimungkinkan, karena kegiatan Haflah Akhirussanah dilaksanakan setelah imtihan (ujian). Jadi hiburan tersebut ditujukan untuk membuat suasana yang santai setelah melaksanakan imtihan.

Malam hari ini, Jum’at (04 Mei 2018) digelar Pengajian Umum dalam Rangka Haflah Akhirussanah sekaligus Imtihan bagi santri TPQ Nurul Huda Desa Putatgede. Kegiatan ini digelar di Halaman Masjid Nurul Huda Desa Putatgede berkat dukungan dari wali santri serta masyarakat desa Putatgede. Sebelum dimulai acara inti, santri-santri TPQ menampilkan kepandaiannya yang didapat selama 1 (satu) masa pendidikan.

Tak tanggung-tangung, dalam acara ini untuk kedua kali ini Panitia Haflah Akhirussanah menghadirkan “Gareng” dengan berpadu bersama Gus Mustaqim Yusuf dari Weleri, dengan di iringi Group Qosidah “New Karisma”, dengan mengambil tema Gareng Ngamuk. Tema ini bukanlah yang sebenarnya, karena untuk mengambil perhatian para pengunjung saja. Namun dalam arti yang sesungguhnya, Gareng  mengingatkan kita agar, pendidikan anak-anak sekarang ini jangan sampai diremehkan agar dibentengi dengan agama. Karena dengan kemajuan jaman dan teknologi, orang tua belum tentu bisa atau mengetahui tingkah laku anak anak kita, ketika dia memegang alat komunikasi berupa Handphone (Sejenis Android). Karena terhubungan dengan yang namanya Internet.

Beliau juga memberikan support kepada wali santri, agar tidak “eman-eman” untuk membiayai anak-anaknya dalam masa pendidikan, apalagi pendidikan dasar agama. “Hartamu (orang tua), yang sesungguhnya buka ada di buku Rekening, bukan dilemari, bukan tanah/kebun. Namun yang abadi adalah yang telah kamu gunakan untuk membiayai anak-anakmu dalam mengenyam pendidikan khususnya agama”. Tegasnya.

Para hadirin begitu terbuai saat si Gareng mulai beraksi karena tampilnya bisa mengocok perut dengan aksi kocak khasnya hinga acara usai, yang kemudian diakhiri dengan Doa.

Komentar Facebook

Tinggalkan Komentar dan Balasan